<< September 2016 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30

hits online

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Tuesday, May 25, 2010
Membangun Budaya Demokrasi, Seperti Apa?


SAAT perubahan rezim, ada tim tujuh yang bekerja membuat cetak biru aturan kepartaian di tanah air. Satu dari mereka adalah Annas Urbaningrum. Andi Mallarangeng dan Prof Dr Ryaas Rasyid adalah orang dekat bagi Annas.

Rahasia siapa sebenarnya Annas oleh Tina Talisa dikupas dengan jenaka dan sesekali serius memancing respon apakah dengan keterpilihan sebagai ketua umum jadi tiket untuk maju sebagai calon presiden 2014 mendatang?

Wawancara yang paling menarik dalam sejarah penampilan Tina Talisa sebenarnya. Sayangnya terlihat sekali referensial posisi Annas tidak dimiliki oleh Tina. Bahkan malam itu, gaya pujian selalu tampil terutama berbalik ke host, yang seharusnya jadi jangkar membawakan acara.

Contohnya adalah pertanyaan soal mengapa memilih Ryaas sebagai wakil orang tua Annas untuk melamar sang istri. Pertanyaan yang sungguh emosional itu dijawab oleh Annas dengan nada berat. Emosinya sedikit tertekan oleh rasa haru, merasakan pengalaman penting dalam kehidupan pribadi terkait kisah asmara dengan sang istri.

"Ayah saya sudah almarhum waktu itu, Pak Ryaas saya anggap sebagai orang tua saya, sekaligus partner dalam bekerja," katanya.

Pelajaran mendasar dari teknik wawancara televisi yang baik, bisa memunculkan emosi dan rasa haru penonton. Metode ini banyak diterapkan untuk dramatisasi di televisi. Sosok Ryaas yang disebutkan sebagai 'pemandu bakat' politik dan karir Annas menambah cairnya suasana interview. "TB Silalahi pernah menyebutkan Annas ini pantas jadi pemimpin," kata Ryaas.

Respon Annas cukup menjaga diri, meski dalam sesi wawancara ataupun interview terlihat sekali dunia batin sosok kelahiran Blitar itu terus memanjatkan doa [bisa jadi berdzikir]. Telunjuk tangan-nya berputar di sofa dan sejurus kemudian beralih.

Respon bahasa tubuh yang cukup ekspresif sebenarnya. Kamera teve tak melanjutkan shoot ke Annas dan beralih ke Tina Talisa yang kemudian lagi-lagi membahas peluang tokoh Ketua Umum Demokrat itu ke pucuk pimpinan negeri ini.

Rasanya isu politik yang digelontorkan terlalu pagi. Setidaknya itulah respon tokoh HMI yang pernah juga masuk sebagai anggota KPU. Jelas sekali terlihat, sejarah politik politisi yang disebut matang dalam kepemimpinan di gerakan [meski bukan gerakan yang radikal] coba dikupas habis. Hingga tudingan pola komunikasi Annas yang kalem jadi jiplakan sosok SBY.

Lagi-lagi itu ditolak Annas dengan menyatakan bahwa inilah dirinya tidak lebih dan tidak ada yang dikurangi.

Di luar itu semua, wacana pasca pemilihan Ketua Umum Demokrat memang memberi nilai positif bagi partai berlatar biru itu. Ramai orang melakukan analisa dan menyampaikan alasan ketepatan pilihan kongres ke-2 partai Demokrat di Bandung.

Semua seperti terkesima oleh sihir politik! Jauh sebelum proses regenerasi kepemimpinan di 2014, gimmick politik pencitraan sudah dimulai. Sebuah titik baru di peta politik tanah air telah muncul.

Pesan dari keterpilihan Annas rasanya tak lengkap jika tidak membaca ulang atau mencermati idealisasi pemikiran mahasiswa doktoral ilmu politik UGM itu dalam pidato politiknya sesaat sebelum kongres partai Demokrat di Bandung digelar.

Membangun Budaya Demokrasi! Seperti apa, mari menikmati prosesnya menuju lima tahun ke depan!

Posted at 5/25/2010 2:03:55 am by dokupath
Make a comment  

Sunday, February 14, 2010
Mereka Terus Berpesta

TAMAN Budaya Yogyakarta tetap hidup, meski malam telah larut. Tak jauh berbeda dengan 'gebyar' perhelatan pembukaan Biennale X; Jogja Jamming yang telah berlalu, kemeriahan acara dan keakraban percakapan antar seniman menjadi menu 'favorit' malam itu. Kali ini, kebetulan ada dermawan yang memberi bahan baku, sapi untuk diolah.

Tak ada sekat, tak ada jarak. Semua berbagi cerita, berbagi kabar, atau sekedar percakapan remeh-temeh, tak melulu soal seni. Bahkan anak-anak para seniman, larut dalam perbincangan. Semua bercampur jadi satu. Itulah sekelumit gambaran pertemuan sejumlah seniman dari beragam usia, Minggu (14/2).

"Sebentar, kita salaman dulu. Selamat datang," begitu Yuswantoro Adi menyapa. "Saya NU," katanya sambil tertawa tergelak. "Sama-sama!" kata yang disalami. Lalu semua tertawa.

"Mari bung, menu makanan lengkap terhidang, ayo nikmati!" ajak Samuel Indratma ramah.

"Lho, kok terlambat? Silakan pilih makanan yang disukai, kalau di ruang seminar, sekarang lagi diputar dokumentasi penyelenggaraan Biennale. Monggo kalau mau ke sana," kata Yuyuk Sugarman, wartawan Sinar Harapan yang jadi pengundang kawan-kawan media di Yogyakarta.

Memang, benar. Sajian makanan beraneka rupa, dari goreng pisang, nasi angkringan hingga daging sapi lezat dihidangkan. Semua bebas menikmati sajian,gratis.

SENI AGAWE SANTOSA, begitu tagline yang digaungkan selama Biennale X dilangsungkan. Hal yang menarik, seluruh seniman yang terlibat dalam event ini justru tak berupaya menjual karya mereka. Karya yang terpajang, memang jadi milestone pribadi seniman.

Tidak semuanya memang, tapi setidaknya dari karya yang dipajang baik di ruang pameran maupun karya-karya milik publik di ruas dan titik tertentu di pusat kota Yogyakarta, memang telah mengubah landskap perkotaan.

Ruang-ruang publik, yang sepi, yang terlantar dan penuh sampah bahkan beberapa kawasan yang sangat pesing [meski berada di depan istana negara, Gedung Agung Yogyakarta] tak luput dari perhatian dan kritik karya seniman. Tidak berhenti di situ, karya rupa yang dipajang, mendapat respon dari seniman video yang akhirnya menjadi karya terpilih versi dokumenter audiovisual.

Gempita penciptaan karya itu, niatannya tetap dirawat sepanjang tahun. Maka muncul gagasan, membuat 'ruang bersama' di Taman Budaya Yogyakarta. Seakan ingin melanjutkan pesta, di ruang bersama nanti, seniman, penulis, wartawan, kritikus, masyarakat luas bisa saling berinteraksi, saling menimba sumur kreatifitas.

Namun, selayaknya pesta, yang selalu memiliki akhir. Gagasan pembuatan 'ruang bersama' juga meredup di telah waktu. Pesta kreatifitas tak selamanya terus berlangsung.





Posted at 2/14/2010 11:42:27 pm by dokupath
Make a comment  

Sunday, August 30, 2009
Perpustakaan Mini di Ruang Publik

RUANG baca di tempat publik layak diwujudkan untuk menumbuhkan minat baca masyarakat. Kebiasaan membaca diyakini mampu menjadikan masyarakat lebih terbuka pemikiran, untuk menerima dan belajar hal baru.

Tantangan terbesar menumbuhkan minat baca di Indonesia yaitu adanya pengaruh media visual dan hadirnya budaya menonton TV yang tidak sehat, dan tidak tersedianya kesempatan akses lebih besar untuk membaca buku.

Itulah mimpi dari seorang pustakawan Haji M Adhisupo yang juga wartawan senior di Kedaulatan Rakyat. Tiap bulan Oktober yang disebutnya sebagai bulan berkunjung ke perpustakaan memang layak jadi momentum titik awal digelontorkan ide bernas itu. Pasalnya, di ruang publik yang ada di kota-kota besar tanah air, lebih banyak didominasi oleh pajangan komersial. Minim makanan bagi otak.

"Saatnya memaknai perpustakaan tidak dalam pengertian sempit, ruang-ruang publik bisa juga jadi perpustakaan bagi masyarakat. Hanya memang butuh dukungan untuk mewujudkan," begitulah pernyataan HM Adhisupo yang juga menjabat Ketua Ikatan Pustakawan DI Yogyakarta.

Ide untuk mewujudkan perpustakaan di ruang publik, akan menyediakan bacaan bagi masyarakat dan membiasakan mereka mau membaca buku. Jika melihat minat masyarakat membaca, baik buku maupun koran di kota pendidikan Yogyakarta dinilai cukup besar. Namun ada kendala, karena di ruang publik tak ada akses untuk membaca buku.

"Saya sudah pernah audiensi dengan Walikota Yogyakarta awal tahun ini. Ada tanggapan positif, tapi saya masih menunggu realisasi keberadaan perpustakaan mini di ruang publik," kata Adhisupo.

Mewujudkan keberadaan perpustakaan di ruang publik, tak membutuhkan biaya besar. Sumber bacaan, berupa buku-buku dengan beragam tema bisa didapatkan dari aksi drop box buku bekas baca, yang masih layak. Masyarakat bisa meng-infaq-kan buku dan itu dapat difasilitasi.

"Saya akui, ini butuh waktu. Jika ada dukungan, tak sulit mewujudkan," kata pensiunan pustakawan UGM ini.

Soal adanya buku yang hilang, jika ditaruh di perpustakaan publik hal itu tak menjadi soal. Dirinya yakin, jika satu buku hilang dari tempat itu berarti ada yang membaca. Untuk itu, ia berharap ada contoh nyata guna mendorong terbentuknya perpustakaan mini di ruang publik seperti ruang tunggu.

Di RS Sardjito misalnya, saat orang mengantre pelayanan bisa membaca buku info kesehatan. Di halte bus TransJogja bisa tersedia buku info pariwisata. Perusahaan seperti bank bisa sediakan etalase buku, yang bebas di akses.

"Intinya bagaimana masyarakat mudah mengakses buku dan membacanya," kata Adhisupa.

Nah, kira-kira harapan ini terwujud. Butuh perhatian politisi secara maksimal kayaknya. Itupun kalau mereka benar-benar mau turut membaca. Semoga!

Posted at 8/30/2009 11:34:40 pm by dokupath
Make a comment  

Saturday, July 04, 2009
Sihir Politik Pilpres 2009

SAYA tertegun mendengar lagu mengalun lambat dari syair Bagimu Negeri dinyanyikan kelompok penyanyi juga sebagian calon pemimpin bangsa 2009-2014. Megawati tak terekam kamera turut bernyanyi mengikuti syair lagu itu, di sisi lain, kamera menyorot SBY dengan sikap 'siaga' tegap bernyanyi demikian juga Jusuf Kalla dengan gaya khas sipilnya turut bernyanyi.

"Mereka adalah kakek-kakek dan nenek, orang tua yang masih ingin mengabdi kepada negeri," begitu kalimat yang terlintas dalam kepala saya.

Begini, memasuki masa tenang jutaan pemilih tentu dalam tiga hari mendatang mempertimbangkan siapa yang diberi mandat memimpin negeri dalam Pemilu Presiden, 8 Juli 2009. Waktu yang sangat pendek, sebenarnya untuk benar-benar memahami seluruh isi kampanye yang telah disampaikan.

Mochtar Pabotinggi dalam opini di Kompas, Sabtu (4/7) menganalisis perasaan yang mirip dengan harapan saya dalam menilai pasangan SBY-JK sebagai orang yang sangat ingin mempertahankan duet Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla.

Pasangan ini berpisah, dengan sikap SBY yang memilih profesional yaitu Boediono. Jusuf Kalla memilih Wiranto dan mendeklarasikan pertama kali pencalonan mereka sebagai pasangan capres-cawapres di Tugu Proklamasi. Berturut berikutnya,Megawati akhirnya menggandeng Prabowo Subianto yang dilekatkan dengan simbol "Soekarno Kecil".

Berbeda dengan analisa Mochtar Pabotinggi, sebagai orang awam, saya menilai ada pelajaran politik cukup dramatis yang bisa mendapat kajian lebih jauh. Pilihan SBY kepada Boediono, saya baca sebagai langkah pendidikan politik penting bagi bangsa.

Negeri ini, dengan pilihan demokrasi langsung, rakyat diajak memberikan pilihan rasional. Memilih bukan berdasarkan ke-tokoh-an, nama besar 'orang tua' tapi rekam jejak kepemimpinan dan kecakapan dalam bekerja.

Penampilan Jusuf Kalla yang energik, tampil sebagai penantang memang menarik. Meski sebenarnya, mengutip pernyataan Buya Syafii Maarif, JK tak begitu populer dalam survei.

Hanya, pujian sebagai the real president-lah yang membuat JK mantap maju sebagai satu pasangan calon Presiden 2009, membuka 'kebuntuan' kondisi politik sulit-nya cari pasangan dari kubu SBY usai berpisah dari JK.

Megawati Soekarno Putri-Prabowo Subianto, membuka mata bangsa dari kacamata TPA Bantar Gebang. Meminjam langgam 'wong cilik' untuk mencari simpati merebut kursi kekuasaan, menuju kursi RI-1 2009-2014. Masalah DPT, jadi amunisi untuk mengkritik proses Pilpres yang seharusnya adil, jujur dan terbuka.

Menjelang masa akhir kampanye, menurut saya, ada pernyataan menarik dari SBY sebagai 'incumbent' yang menyebut banyak sihir bertebaran yang dirasakan. Di kediaman-nya Cikeas, SBY meminta tujuh hal dengan dzikir yang dipanjatkan.

Modal dukungan doa, seakan menjawab pertanyaan saya, kapan tokoh asal Pacitan tersebut 'menggunakan' komunitas majelis dzikir dalam musim kampanye menuju RI-1.

Sebagai warga negara, saya hanya mencatat dan merekam semua janji yang disampaikan selama masa kampanye. Mewakili golongan awam negeri ini, merasakan kaburnya pesan yang bisa saya ingat.

Mungkin hanya tiga perkataan yang kuat terekam dalam pikiran saya, itupun karena mendengarkan pernyataan jawaban dari pertanyaan moderator, Pratikno, dosen Fisipol UGM saat debat terakhir.

Jawaban atas pertanyaan,seandainya kalah dalam Pilpres 2009, apa yang akan dilakukan?

Megawati menyatakan akan tetap mengabdi pada negeri, jika kalah. SBY menegaskan akan memberi selamat kepada yang terpilih dan mengajak memberi dukungan politik kepada pasangan terbaik pilihan rakyat, dan JK yang merasa terbaik akan pulang kampung halaman di Makasar, mengurusi masjid dan siap jadi juru damai jika dibutuhkan kapan saja.

Apakah saya memilih salah satu calon pasangan capres-cawapres? Saya masih bermasalah dengan domisili dan ketentuan teknis yang diterbitkan Komisi Pemilihan Umum.

Jadi, kalau suara saya hilang, itu karena soal teknis saja! Bukan akibat sihir politik Pilpres 2009!

Posted at 7/4/2009 9:28:37 am by dokupath
Comments (2)  

Next Page