Pake Masker Dulu, Sebelum Flu Babi Menyergap
"Sebentar, mas. Mbak-e mengko iso semaput. Kelamaan pake masker," begitu pinta petugas kesehatan di RS Sardjito, Rabu (29/4) siang.
Wajah si perawat sendiri, memang hampir seluruhnya tertutup oleh masker. Di tangan-nya, ada Tamiflu yang jadi obyek pewarta foto secara bergantian.
Seakan ingin memberikan layanan terbaik, permintaan beberapa pewarta foto itu terus saja dilayani. Meski akhirnya, perawat membuka juga masker yang menutup wajah itu. Si ibu, perawat wajahnya penuh keringat.
Padahal di satu ruang isolasi, 'pasien gadungan flu babi' masih jadi obyek foto, pewarta lain.
"Jadi, ini nggak perlu lagi pasang infus? Baiklah, nanti saya pasang lagi maskernya ya,!' kata ibu perawat sambil tersenyum.
Itulah cuplikan simulasi penanganan flu babi atau swine flu di RS Sardjito Yogyakarta. Media massa langsung menyambut "berita heboh" dari penyakit yang kini merebak di Meksiko, Amerika Latin. Maklum saja, ribuan orang sudah terinfeksi virus ini, dan sejumlah orang dikabarkan meninggal akibat terkena serangan flu.
Hampir seluruh warga dunia, bersiaga mengantisipasi penyakit yang oleh WHO disebutkan potensial menjadi wabah pandemi penyakit. Semua orang, tentu saja masih ingat wabah flu burung, yang menjadi sorotan banyak bangsa.
Di Indonesia, belum lama berselang, pejabat, petugas kesehatan, dinas peternakan dan pengusaha ternak kelabakan karena adanya temuan flu burung atau avian influenza yang menyerang dan ada di beberapa tempat.
Suspect flu burung, atau dugaan penderita flu burung yang menyerang manusia dengan proses mutasi virus H5N1 pun menjadi bahan perbincangan dan sumber kekhawatiran banyak pihak.
Wajar, jika kemudian ada kesiagaan seperti yang ditunjukan oleh petugas di RS Sardjito. Tapi ya itu, efek media massa yang mengangkat kisah "jauh di sana" serasa begitu dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia, sangat kuat.
"Pupur sak durunge benjut", itu pesan ahli bencana.
Kini kisahnya, menurut dr Sumardi, Ketua Satgas Penanganan Flu Burung, RS Sardjito virus tipe A, H1N1 disebutkan pernah membuat kematian satu juta penduduk Indonesia di tahun 1918 dan membuat 50-60 juta penduduk dunia waktu itu meninggal.
Pertanyaan-nya, benarkah dugaan siklus 100 tahun virus ini terjadi? Kalau menengok catatan sejarah penyakit, catatan kesehatan di masa lalu itu, mungkinkah penyakit ini berulang, di Indonesia?
Posted at 4/30/2009 11:25:12 am by dokupath