<< July 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31

hits online

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Saturday, July 04, 2009
Sihir Politik Pilpres 2009

SAYA tertegun mendengar lagu mengalun lambat dari syair Bagimu Negeri dinyanyikan kelompok penyanyi juga sebagian calon pemimpin bangsa 2009-2014. Megawati tak terekam kamera turut bernyanyi mengikuti syair lagu itu, di sisi lain, kamera menyorot SBY dengan sikap 'siaga' tegap bernyanyi demikian juga Jusuf Kalla dengan gaya khas sipilnya turut bernyanyi.

"Mereka adalah kakek-kakek dan nenek, orang tua yang masih ingin mengabdi kepada negeri," begitu kalimat yang terlintas dalam kepala saya.

Begini, memasuki masa tenang jutaan pemilih tentu dalam tiga hari mendatang mempertimbangkan siapa yang diberi mandat memimpin negeri dalam Pemilu Presiden, 8 Juli 2009. Waktu yang sangat pendek, sebenarnya untuk benar-benar memahami seluruh isi kampanye yang telah disampaikan.

Mochtar Pabotinggi dalam opini di Kompas, Sabtu (4/7) menganalisis perasaan yang mirip dengan harapan saya dalam menilai pasangan SBY-JK sebagai orang yang sangat ingin mempertahankan duet Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla.

Pasangan ini berpisah, dengan sikap SBY yang memilih profesional yaitu Boediono. Jusuf Kalla memilih Wiranto dan mendeklarasikan pertama kali pencalonan mereka sebagai pasangan capres-cawapres di Tugu Proklamasi. Berturut berikutnya,Megawati akhirnya menggandeng Prabowo Subianto yang dilekatkan dengan simbol "Soekarno Kecil".

Berbeda dengan analisa Mochtar Pabotinggi, sebagai orang awam, saya menilai ada pelajaran politik cukup dramatis yang bisa mendapat kajian lebih jauh. Pilihan SBY kepada Boediono, saya baca sebagai langkah pendidikan politik penting bagi bangsa.

Negeri ini, dengan pilihan demokrasi langsung, rakyat diajak memberikan pilihan rasional. Memilih bukan berdasarkan ke-tokoh-an, nama besar 'orang tua' tapi rekam jejak kepemimpinan dan kecakapan dalam bekerja.

Penampilan Jusuf Kalla yang energik, tampil sebagai penantang memang menarik. Meski sebenarnya, mengutip pernyataan Buya Syafii Maarif, JK tak begitu populer dalam survei.

Hanya, pujian sebagai the real president-lah yang membuat JK mantap maju sebagai satu pasangan calon Presiden 2009, membuka 'kebuntuan' kondisi politik sulit-nya cari pasangan dari kubu SBY usai berpisah dari JK.

Megawati Soekarno Putri-Prabowo Subianto, membuka mata bangsa dari kacamata TPA Bantar Gebang. Meminjam langgam 'wong cilik' untuk mencari simpati merebut kursi kekuasaan, menuju kursi RI-1 2009-2014. Masalah DPT, jadi amunisi untuk mengkritik proses Pilpres yang seharusnya adil, jujur dan terbuka.

Menjelang masa akhir kampanye, menurut saya, ada pernyataan menarik dari SBY sebagai 'incumbent' yang menyebut banyak sihir bertebaran yang dirasakan. Di kediaman-nya Cikeas, SBY meminta tujuh hal dengan dzikir yang dipanjatkan.

Modal dukungan doa, seakan menjawab pertanyaan saya, kapan tokoh asal Pacitan tersebut 'menggunakan' komunitas majelis dzikir dalam musim kampanye menuju RI-1.

Sebagai warga negara, saya hanya mencatat dan merekam semua janji yang disampaikan selama masa kampanye. Mewakili golongan awam negeri ini, merasakan kaburnya pesan yang bisa saya ingat.

Mungkin hanya tiga perkataan yang kuat terekam dalam pikiran saya, itupun karena mendengarkan pernyataan jawaban dari pertanyaan moderator, Pratikno, dosen Fisipol UGM saat debat terakhir.

Jawaban atas pertanyaan,seandainya kalah dalam Pilpres 2009, apa yang akan dilakukan?

Megawati menyatakan akan tetap mengabdi pada negeri, jika kalah. SBY menegaskan akan memberi selamat kepada yang terpilih dan mengajak memberi dukungan politik kepada pasangan terbaik pilihan rakyat, dan JK yang merasa terbaik akan pulang kampung halaman di Makasar, mengurusi masjid dan siap jadi juru damai jika dibutuhkan kapan saja.

Apakah saya memilih salah satu calon pasangan capres-cawapres? Saya masih bermasalah dengan domisili dan ketentuan teknis yang diterbitkan Komisi Pemilihan Umum.

Jadi, kalau suara saya hilang, itu karena soal teknis saja! Bukan akibat sihir politik Pilpres 2009!

Posted at 7/4/2009 9:28:37 am by dokupath

Pak Wali
July 10, 2009   07:39 AM PDT
 
gini ibaz, pak beye memilih professor alias guru besar ekonomi mendampinginya memimpin negeri jika terpilih. sebelumnya, pak boed sudah ajukan 'proposal' pemikiran membangun negeri saat pidato pengukuhan di UGM. itu yang saya baca sebagai 'profesional',
ibaz
July 7, 2009   04:57 PM PDT
 
pak wali menyebut pilihan sby kepada boediono, sbg pilihan profesional, tidak berdasarkan ketokohan. saya belum mengerti secara terang istilah "profesional" di sini. mungkin pak wali bisa mengklarifikasinya?

salam, tak jauh dari tepi banjir kanal timur SMG
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home