<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30

hits online

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Tuesday, April 14, 2009
Politik Uang?

Pemilihan Umum 2009, 9 April sudah lewat. Komisi Pemilihan Umum di berbagai kota kini sibuk dengan pekerjaan menghitung suara. Mereka kini tengah bekerja untuk mencatat dan memberikan laporan hasil suara masyarakat yang menentukan siapa saja berhak menuju kursi dewan, menjadi wakil masyarakat periode lima tahun mendatang.

Satu masalah, yang banyak dijadikan sorotan, bagaimana politik uang bekerja di pemilu. Variatif juga kisah dari calon legislatif kumpulkan calon pemilih, mencari perhatian masyarakat. Tips dan trik dari yang paling sederhana, berkampanye door to door, memanfaatkan popularitas hingga pemanfaatan pola komunikasi canggih via media dilakukan. Namun, kehendak memberikan uang ke calon pemilih jadi pilihan caleg di banyak tempat.

Bagaimana masyarakat bersikap atas politik uang ini? Pernyataan Ibu Ambar, penjual pernik-pernik asesoris di komplek Makam Bung Karno di Blitar mungkin bisa mewakili. Soal politik uang, ibu Ambar bilang, semua tergantung dengan pribadi caleg. Harusnya punya modal, menuju DPR. Bukan sekedar cari untung saja.

Ia mengaku senang saja, dengan kehadiran calon legislatif yang berasal dari partai-partai baru. Selama kampanye kemarin, ia sempat mendapat uang Rp 50.000 saat kunjungan petinggi partai Gerindra ke makam Presiden RI, Soekarno. Modusnya, uang itu untuk membeli barang dagangan miliknya.

"Bayangkan mas, kalau tiap caleg begitu, bisa laris manis dagangan saya, tapi pas Bu Mega ke sini ya kita hanya bisa mendekat saja," kata Ambar.

Pedagang yang sudah 10 tahun menggantungkan nasib dari berdagang pernik asesoris itu menyatakan opini dan analisis politiknya. Soal kedekatan dengan masyarakat, yang dirasakan saat calon-calon pemimpin itu datang. Katanya, sapaan hangat diterima. Tapi dirinya sanksi kalau sudah jadi pejabat di pusat, mereka bisa sangat dekat dengan rakyatnya.

"Misalnya, ibu Mega, kemarin semua orang bisa mudah mengakses. Tapi apa ya bisa nanti kalau terpilih jadi presiden, kami-kami ini bisa mendekat?" katanya.

Masuk ke ranah TPS, hasilnya kini memang ditunggu caleg yang telah bekerja sejak 2008 lalu berkampanye. Seorang kawan, caleg muda dari partai baru sebut saja "Partai Penipu Rakyat" mendapat suara 60. Ada lagi, tetangga rumah yang masih mampu raih suara lumayan di TPS kampungnya. Padahal dia berada di Partai Konflik Besar, jadi caleg nomor urut 4 dan berhasil raih suara. Dengar-dengar, caleg ini minim sekali keluar dana, caleg pelit kata banyak anak muda di kampung.

Di TPS kampung, proses pemilihan dilakukan di rumah bertingkat yang kini jadi sengketa. Proses pengitungan kelar pukul 00.30 dinihari, sejak dibuka pukul 08.00. Otomatis petugas TPS lembur hingga pagi.

Alih-alih menghasilkan pemilu berkualitas, caleg yang sudah keluarkan duit untuk berpolitik memang tengah menanam budi baek. Ribuan caleg yang berkompetisi sebenarnya adalah aset pelaku politik yang beretika. Sayangnya, mereka sudah memulai politik dengan dasar berpikir yang bersumbu pendek, bukan tawaran kebijakan tapi justru pendidikan yang tak punya nilai.

Hasilnya, tentu saja pekerjaan besar masih menanti. Seorang teman berkata, " Saya sudah banyak ambil untung dari rakyat, kini saya harus kembalikan itu ke rakyat, ". Itu yang seharusnya jadi dasar berpikir menurutku.

Posted at 4/14/2009 9:02:40 am by dokupath
Make a comment  

Monday, October 27, 2008
Memutar Ulang Memori Yogyakarta

Jika dipotret dari udara, semarak kemeriahan pesta-pesta kebudayaan di beberapa kota Indonesia pasti menarik. Terutama di Yogyakarta, gemerlap kota dengan listrik berkekuatan hingga 30 ribu mega watt.

Ya, warga kota dengan seribu predikat itu tengah memperingati hari ulang tahun ke-252 dengan atraksi kesenian dalam tajuk Celebration of Culture. Beruntung, saat perayaan berjalan, cuaca cukup bersahabat dan tak turun hujan.

Kemeriahan pesta juga terasa, dengan hadirnya gemerlap lampu-lampu, yang menyorot puluhan seniman tradisi dari berbagai negara dunia- tampil. Mereka berasal dari kota-kota "saudara" atau sister city yang berkolaborasi dengan Yogyakarta. Tak ketinggalan perhelatan berbiaya ratusan juta rupiah itu diwarnai pula ikon Rama Tambak, Sabtu (27/10) petang.

Entah kenapa, kali ini karnaval di adakan malam hari. Di selebaran tertulis mulai pukul 18.00 namun saat pelaksanaan baru pukul 19.00 kegiatan dibuka. Riibuan orang penonton memang memadati ruas Malioboro, hasilnya? Jelas saja kemacetan tak terhindarkan di berbagai sudut kota!

Kompas menulis kutipan Sultan Hamengku Buwono X, Yogyakarta sedang mengalami tranformasi sosial yang cepat, dari agraris ke industri terutama industri kreatif. Orang berpindah dari komoditas pertanian ke arah teknologi informasi.

Sultan pun melanjutkan soal pilihan seniman kota, mau tak mau harus berhubungan dengan budaya kota, tempat berlangsungnya akulturasi budaya lokal dan global.

Seperti perayaan dan karnaval serupa di kota-kota Indonesia, tontonan, apapun bentuknya pasti merebut perhatian. Tampilnya seniman dari berbagai kota lain ke Yogyakarta jadi ajang menarik untuk saling bertemunya kebudayaan antar negara.

Bagi warga kota Yogyakarta, pertemuan kebudayaan dengan budaya negara lain, sangatlah akrab. Sebagai kota pendidikan dan wisata, tentu saja cukup terbuka dalam menerima hampir seluruh kebudayaan yang ada di nusantara.

Tercatat ada kelompok Gamelan Gaul, kesenian khas Kulonprogo, Angguk, seniman kontemporer tari dari Surabaya dan seniman tamu dari Gang Buk Gu, asal Korea Selatan lalu tarian Balleck dari Lebanon.

Selain itu, masih ada Kezco Takemoto asal Jepang, Gang Neung asal Korea Selatan dan seniman asal Malaysia. Mendata lagi kesenian asal negeri sendiri, yaitu penyandang tuna rungu, Phoenix Chinesse Dance, Rampak Buto dan tak ketinggalan kelompok seniman Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Pengalaman menonton, bertegur sapa, larut dalam perayaan, arak-arakan maupun festival seperti di Sabtu petang lalu tentu punya makna khusus. Bagi pemerintah kota, jelas ada target penegasan tema Celebration Of Culture yang ditampilkan.

Wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta tentu saja bisa menikmati lepas, seluruh rangkaian pertunjukan. Bagi yang tak bisa menikmati dari dekat, tersedia layar lebar yang memutar tontonan langsung di videotronik, utara hotel Natour Garuda, atau di sekitar parkir Abu Bakar Ali.

Malam itu, memang jadi puncak kegembiraan, kemeriahan pesta seni. Masyarakat 'dihibur' oleh penampilan puluhan seniman. Melupakan 'sejenak' kesulitan hidup, serta mencicipi gemerlap cahaya lampu!

Memutar ulang memori Yogyakarta, di 252 tahun berdirinya kota tentu saja perlu sedikit refleksi, seberapa jauh pembangunan perkotaan benar-benar bermakna bagi warganya?

Inilah saya kira, pekerjaan rumah yang harus selalu diingat usai berpesta!

Posted at 10/27/2008 7:46:23 am by dokupath
Comment (1)  

Tuesday, September 23, 2008
Masjid Panepen, Komplek Keraton Ngayogyakarta

Di sebuah petang, masjid Panepen, kompleks keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, abdi dalem keraton, Mas Penewu Abdul Riyadi (58), Bekel Abdul Syamsudin dan Konco Kaji Ngabdul Syaiful bersiap menjalankan ibadah.

Mengenakan baju putih-putih, ciri khas yang membedakan dengan abdi dalem keraton lain, yang bertugas dalam sisi pelayanan spiritual atau bidang keagamaan, tiga abdi dalem itu sangat ramah menyambut tamu.

"Di sini, tempat Sultan berdoa. Ada tempat khusus untuk memanjatkan doa, di sana beliau biasa tafakur," kata Ngabdul Syaiful.

Masjid Panepen, memang spesial bagi keraton Ngayogyakarta. Suasana khidmat, dengan nuansa interior berwarna hijau-putih, jadi penambah kedamaian siapapun yang 'berkesempatan' memasuki ruang dalam.

Bagi orang luar kerabat keraton, bangunan masjid Panepen memang terlewat. Bangunan itu memang bukan diperuntukan bagi publik luas, karena lokasinya berada di sisi barat, atau arah menuju kompleks Keraton Kilen.

Masjid ini, mungkin lebih dikenal sebagai tempat istmiewa, terutama karena menjadi lokasi ijab-kabul bagi putra-putri kerabat keraton, itu yang sering diketahui banyak orang.

Dari penuturan Mas Bekel Penewu Abdul Riyadi, di masjid inilah, tempat Sultan berdoa. Panepen, berasal dari kata menepi, atau menyendiri, atau bisa juga diterjemahkan bebas untuk refleksi diri.

Posted at 9/23/2008 7:42:45 am by dokupath
Make a comment  

Thursday, August 28, 2008
Taman Pintar di Yogyakarta; Kisah Pilu di Pusat Kota

Tiga orang 'besar' tersenyum menonton tayangan film animasi di Taman Pintar Yogyakarta. Tentu saja mereka gratis tanpa bayar, untuk merasakan wahana menarik terbaru dari Dunia Kreasi Teater 4 Dimensi. Mereka adalah, Sultan Hamengku Buwono X, Herry Zudianto, Arif Noor Hartanto.

Selasa (26/8) malam, masih di bulan Agustus, bersama dengan anak-anak dari sekolah di kota Yogyakarta, tiga pemimpin itu menikmati serunya sajian canggih dari teknologi terkini film animasi. Niatan-nya, wahana baru itu jadi ikon baru di pusat kota, mendukung keberadaan Taman Pintar.

Saya teringat, kisah pilu lain, yang terekam dalam film Dongeng Kancil Tentang Kemerdekaan. Mengapa? Keajaiban layar perak bioskop, memang sangat kuat sebagai wahana untuk penyampai pesan. Garin Nugroho, beberapa waktu silam, memproduksi film, di lokasi yang kini berdiri bangunan Taman Pintar itu.

Jelas, kondisinya jauh berbeda dengan hari ini. Ada pusat buku terkenal di lokasi itu, namanya Shopping Center, dan di depan-ada papan guna memajang poster film dan baliho. Kesan, kumuh dan kurang tertata, jelas jadi ikon saat pengunjung masuk di los-los toko buku yang ada.

Di sisi utara, gedung bioskop lama, dengan lokasi parkir, jadi ruang kehidupan orang-orang kecil, termasuk tiga tokoh cerita, Sugeng, Heru dan Kancil, anak-anak jalanan yang mencari hidup di kota besar.

Ada tokoh ibu, yang tampil, seorang diri, bertahan hidup. Anak-anak jalanan, itulah bunga kehidupan yang hadir. Sosok ibu, diperankan dengan baik, memberi perhatian kepada anak-anak jalanan yang butuh hidup, makan, juga kasih sayang.

Kisah pilu, nasib anak-anak jalanan itu, hingga kini masih saja terjadi. Mereka juga tak bisa menikmati langsung keajaiban teknologi, yang diperankan dalam film-film. Untuk menonton, kehebatan teknologi yang ada di Taman Pintar, tentu butuh kedermawanan, siapa saja.

Harga tiket, dipatok 10 ribu, untuk satu kali menikmati tayangan film. Harga yang cukup untuk membeli tiga kali makan untuk mengganjal perut, jika anak-anak memiliki uang dari hasil bekerja, mengamen.

Saya hanya ingin mencatat, di tengah keterpurukan ekonomi dan kesuksesan pemerintah, membuat bangunan, program ekonomi, penataan kawasan perkotaan, seringkali mereka yang 'kecil' terpinggirkan dari 'mimpi-mimpi' besar.

Dongeng Kancil tentang Kemerdekaan, mengingatkan selalu soal nasib anak-anak yang dilupakan. Mereka yang hilang, akibat 'kejahatan besar' praktek ekonomi kapitalis, hanya mendapat tempat di sudut kota, rumah singgah yang kumuh, dan harapan akan kehidupan yang sangat tak bersahabat.

Alih-alih membuat program pengentasan, sebaliknya, penggusuran dan penghilangan hak-hak dasar selalu saja terjadi.

Pertanyaan, saya, di manakah, posisi Anda sekarang ? Menjadi bagian sisi baik, atau di sisi buruk menghadirkan pembangunan?

Berkunjunglah ke Taman Pintar, di Yogyakarta, siapa tahu ada inspirasi dari sana!!

Posted at 8/28/2008 8:50:31 am by dokupath
Make a comment  

Previous Page Next Page