<?xml version="1.0" encoding="ISO-8859-1" ?>
<rss version="0.91">
  <channel>
    <title>Documentary Site</title>
    <link>http://dokupath.blogdrive.com/</link>
    <description>Documentary Site</description>
    <lastBuildDate>Mon, 27 Oct 2008 07:50:01 PDT</lastBuildDate>
    <generator>http://www.blogdrive.com</generator>
    <copyright>Copyright 2008.</copyright>
    <category>Sports</category>
    <category>Travel</category>
    <category>Photography</category>
    <item>
      <title>Memutar Ulang Memori Yogyakarta</title>
      <link>http://dokupath.blogdrive.com/archive/126.html</link>
      <pubDate>Mon, 27 Oct 2008 00:46:23 GMT</pubDate>
      <description>Jika dipotret dari udara, semarak kemeriahan pesta-pesta kebudayaan di beberapa kota Indonesia pasti menarik. Terutama di Yogyakarta, gemerlap kota dengan listrik berkekuatan hingga 30 ribu mega watt. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Ya, warga kota dengan seribu predikat itu tengah memperingati hari ulang tahun ke-252 dengan atraksi kesenian dalam tajuk Celebration of Culture.  Beruntung, saat perayaan berjalan, cuaca cukup bersahabat dan tak turun hujan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Kemeriahan pesta juga terasa, dengan hadirnya gemerlap lampu-lampu, yang menyorot puluhan  seniman tradisi dari berbagai negara dunia- tampil. Mereka berasal dari kota-kota &quot;saudara&quot; atau sister city yang berkolaborasi dengan Yogyakarta.  Tak ketinggalan perhelatan berbiaya ratusan juta rupiah itu diwarnai pula ikon Rama Tambak, Sabtu (27/10) petang.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Entah kenapa, kali ini karnaval di adakan malam hari. Di selebaran tertulis mulai pukul 18.00 namun saat pelaksanaan baru pukul 19.00 kegiatan dibuka. Riibuan orang penonton memang memadati ruas Malioboro, hasilnya? Jelas saja kemacetan tak terhindarkan di berbagai sudut kota!&lt;br&gt;&lt;br&gt;Kompas menulis kutipan Sultan Hamengku Buwono X, Yogyakarta sedang mengalami tranformasi sosial yang cepat, dari agraris ke industri terutama industri kreatif. Orang berpindah dari komoditas pertanian ke arah teknologi informasi.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Sultan pun melanjutkan soal pilihan seniman kota, mau tak mau harus berhubungan dengan budaya kota, tempat berlangsungnya akulturasi budaya lokal dan global.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Seperti perayaan dan karnaval serupa di kota-kota Indonesia, tontonan, apapun bentuknya pasti merebut perhatian. Tampilnya seniman dari berbagai kota lain ke Yogyakarta jadi ajang menarik untuk saling bertemunya kebudayaan antar negara. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Bagi warga kota Yogyakarta, pertemuan kebudayaan dengan budaya negara lain, sangatlah akrab. Sebagai kota pendidikan dan wisata, tentu saja cukup terbuka dalam menerima hampir seluruh kebudayaan yang ada di nusantara. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Tercatat ada kelompok Gamelan Gaul, kesenian khas Kulonprogo, Angguk, seniman kontemporer tari dari Surabaya dan seniman tamu dari Gang Buk Gu, asal Korea Selatan lalu tarian Balleck dari Lebanon.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Selain itu, masih ada Kezco Takemoto asal Jepang, Gang Neung asal Korea Selatan dan seniman asal Malaysia. Mendata lagi kesenian asal negeri sendiri, yaitu penyandang tuna rungu, Phoenix Chinesse Dance, Rampak Buto dan tak ketinggalan kelompok seniman Institut Seni Indonesia Yogyakarta.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Pengalaman menonton, bertegur sapa, larut dalam perayaan, arak-arakan maupun festival seperti di Sabtu petang lalu tentu punya makna khusus. Bagi pemerintah kota, jelas ada target penegasan tema Celebration Of Culture yang ditampilkan.  &lt;br&gt;&lt;br&gt;Wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta tentu saja bisa menikmati lepas, seluruh rangkaian pertunjukan. Bagi yang tak bisa menikmati dari dekat, tersedia layar lebar yang memutar tontonan langsung di videotronik, utara hotel Natour Garuda, atau di sekitar parkir Abu Bakar Ali.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Malam itu, memang jadi puncak kegembiraan, kemeriahan pesta seni. Masyarakat 'dihibur' oleh penampilan puluhan seniman. Melupakan 'sejenak' kesulitan hidup, serta mencicipi gemerlap cahaya lampu!&lt;br&gt;&lt;br&gt;Memutar ulang memori Yogyakarta, di 252 tahun berdirinya kota tentu saja perlu sedikit refleksi, seberapa jauh pembangunan perkotaan benar-benar bermakna bagi warganya? &lt;br&gt;&lt;br&gt;Inilah saya kira,  pekerjaan rumah yang harus selalu diingat usai berpesta!&lt;br&gt; &lt;!-- begin(Yahoo ad) --&gt;&lt;a href=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/118672/click/&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/118672/img/?url=http%3A%2F%2Fdokupath.blogdrive.com%2Farchive%2F126.html&amp;amp;pid=1846251505&quot; alt=&quot;Ads by Yahoo!&quot; border=&quot;0&quot;/&gt;&lt;/a&gt;&lt;!-- end(Yahoo ad) --&gt;</description>
      <comments>http://dokupath.blogdrive.com/comments?id=126</comments>
    </item>
    <item>
      <title>Masjid Panepen, Komplek Keraton Ngayogyakarta</title>
      <link>http://dokupath.blogdrive.com/archive/125.html</link>
      <pubDate>Tue, 23 Sep 2008 00:42:45 GMT</pubDate>
      <description>Di sebuah petang, masjid Panepen, kompleks keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, abdi dalem keraton, Mas Penewu Abdul Riyadi (58), Bekel Abdul Syamsudin dan Konco Kaji Ngabdul Syaiful bersiap menjalankan ibadah.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Mengenakan baju putih-putih, ciri khas yang membedakan dengan abdi dalem keraton lain, yang bertugas dalam sisi pelayanan spiritual atau bidang keagamaan, tiga abdi dalem itu sangat ramah menyambut tamu.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&quot;Di sini, tempat Sultan berdoa. Ada tempat khusus untuk memanjatkan doa, di sana beliau biasa tafakur,&quot; kata Ngabdul Syaiful.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Masjid Panepen, memang spesial bagi keraton Ngayogyakarta. Suasana khidmat, dengan nuansa interior berwarna hijau-putih, jadi penambah kedamaian siapapun yang 'berkesempatan' memasuki ruang dalam.&lt;br&gt; &lt;br&gt;Bagi orang luar kerabat keraton, bangunan masjid Panepen memang terlewat. Bangunan itu memang bukan diperuntukan bagi publik luas, karena lokasinya berada di sisi barat, atau arah menuju kompleks Keraton Kilen.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Masjid ini, mungkin lebih dikenal sebagai tempat istmiewa, terutama karena menjadi lokasi ijab-kabul bagi putra-putri kerabat keraton, itu yang sering diketahui banyak orang. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Dari penuturan Mas Bekel Penewu Abdul Riyadi, di masjid inilah, tempat Sultan berdoa. Panepen, berasal dari kata menepi, atau menyendiri, atau bisa juga diterjemahkan bebas untuk refleksi diri. &lt;br&gt;&lt;br&gt; &lt;!-- begin(Yahoo ad) --&gt;&lt;a href=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/118672/click/&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/118672/img/?url=http%3A%2F%2Fdokupath.blogdrive.com%2Farchive%2F125.html&amp;amp;pid=1846251505&quot; alt=&quot;Ads by Yahoo!&quot; border=&quot;0&quot;/&gt;&lt;/a&gt;&lt;!-- end(Yahoo ad) --&gt;</description>
      <comments>http://dokupath.blogdrive.com/comments?id=125</comments>
    </item>
    <item>
      <title>Taman Pintar di Yogyakarta; Kisah Pilu di Pusat Kota</title>
      <link>http://dokupath.blogdrive.com/archive/124.html</link>
      <pubDate>Thu, 28 Aug 2008 01:50:31 GMT</pubDate>
      <description>Tiga orang 'besar' tersenyum menonton tayangan film animasi di Taman Pintar Yogyakarta. Tentu saja mereka gratis tanpa bayar, untuk merasakan wahana menarik terbaru dari Dunia Kreasi Teater 4 Dimensi. Mereka adalah, Sultan Hamengku Buwono X, Herry Zudianto, Arif Noor Hartanto.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Selasa (26/8) malam, masih di bulan Agustus, bersama dengan anak-anak dari sekolah di kota Yogyakarta, tiga pemimpin itu menikmati serunya sajian canggih dari teknologi terkini film animasi. Niatan-nya, wahana baru itu jadi ikon baru di pusat kota, mendukung keberadaan Taman Pintar.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Saya teringat, kisah pilu lain, yang terekam dalam film Dongeng Kancil Tentang Kemerdekaan. Mengapa? Keajaiban layar perak bioskop, memang sangat kuat sebagai wahana untuk penyampai pesan. Garin Nugroho, beberapa waktu silam, memproduksi film, di lokasi yang kini berdiri bangunan Taman Pintar itu.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Jelas, kondisinya jauh berbeda dengan hari ini. Ada pusat buku terkenal di lokasi itu, namanya Shopping Center, dan di depan-ada papan guna memajang poster film dan baliho. Kesan, kumuh dan kurang tertata, jelas jadi ikon saat pengunjung masuk di los-los toko buku yang ada.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Di sisi utara, gedung bioskop lama, dengan lokasi parkir, jadi ruang kehidupan orang-orang kecil, termasuk tiga tokoh cerita, Sugeng, Heru dan Kancil, anak-anak jalanan yang mencari hidup di kota besar.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Ada tokoh ibu, yang tampil, seorang diri, bertahan hidup. Anak-anak jalanan, itulah bunga kehidupan yang hadir. Sosok ibu, diperankan dengan baik, memberi perhatian kepada anak-anak jalanan yang butuh hidup, makan, juga kasih sayang.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Kisah pilu, nasib anak-anak jalanan itu, hingga kini masih saja terjadi. Mereka juga tak bisa menikmati langsung keajaiban teknologi, yang diperankan dalam film-film. Untuk menonton, kehebatan teknologi yang ada di Taman Pintar, tentu butuh kedermawanan, siapa saja. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Harga tiket, dipatok 10 ribu, untuk satu kali menikmati tayangan film. Harga yang cukup untuk membeli tiga kali makan untuk mengganjal perut, jika anak-anak memiliki uang dari hasil bekerja, mengamen.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Saya hanya ingin mencatat, di tengah keterpurukan ekonomi dan kesuksesan pemerintah, membuat bangunan, program ekonomi, penataan kawasan perkotaan, seringkali mereka yang 'kecil' terpinggirkan dari 'mimpi-mimpi' besar. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Dongeng Kancil tentang Kemerdekaan, mengingatkan selalu soal nasib anak-anak yang dilupakan. Mereka yang hilang, akibat 'kejahatan besar' praktek ekonomi kapitalis, hanya mendapat tempat di sudut kota, rumah singgah yang kumuh, dan harapan akan kehidupan yang sangat tak bersahabat.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Alih-alih membuat program pengentasan, sebaliknya, penggusuran dan penghilangan hak-hak dasar selalu saja terjadi. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Pertanyaan, saya, di manakah, posisi Anda sekarang ? Menjadi bagian sisi baik, atau di sisi buruk menghadirkan pembangunan? &lt;br&gt;&lt;br&gt;Berkunjunglah  ke Taman Pintar, di Yogyakarta, siapa tahu ada inspirasi dari sana!!&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;!-- begin(Yahoo ad) --&gt;&lt;a href=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/118672/click/&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/118672/img/?url=http%3A%2F%2Fdokupath.blogdrive.com%2Farchive%2F124.html&amp;amp;pid=1846251505&quot; alt=&quot;Ads by Yahoo!&quot; border=&quot;0&quot;/&gt;&lt;/a&gt;&lt;!-- end(Yahoo ad) --&gt;</description>
      <comments>http://dokupath.blogdrive.com/comments?id=124</comments>
    </item>
    <item>
      <title>Mega Portal (Hayo) Sapa Lagi</title>
      <link>http://dokupath.blogdrive.com/archive/123.html</link>
      <pubDate>Wed, 20 Aug 2008 01:03:02 GMT</pubDate>
      <description>Sejarah media online di Indonesia, memang tak selamanya manis. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Setelah sekian lama berkenalan dengan internet, saya merasa perlu jeda sejenak untuk menuliskan judul ini &quot;Mega Portal (Hayo) Sapa Lagi&quot;. Begini, bagi pengguna internet di Indonesia, media teknologi komunikasi ini telah merambah ke ribuan kepala. Petani hingga Kepala Negara, negeri ini pun akhirnya merasa perlu untuk berkenalan dengan teknologi internet. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Pun, bagi media massa di tanah air. Obsesi memiliki prestige dengan kepemilikan media online jadi semacam prasyarat bahwa keterbacaan dan isi tulisan awaknya benar-benar berguna. Mari mulai mendata, media massa nasional yang kini memilih internet sebagai 'gerai' informasi yang layak dimiliki. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Sedikit merunut ke belakang, Detikcom, boleh tercatat sebagai legenda sukses bisnis media online, sekaligus yang mematahkan dominasi media mainstream, media besar yang sudah ada.  Mungkin saya salah, tapi Detikcom itu awalnya dikerjakan oleh segelintir orang, model pelaporan cepat, kalau bisa detik ini mengapa harus menunggu esok pagi. Awalnya hanya satu komputer saja, dengan tenaga redaksi (reporter) lapangan yang disebar dalam berbagai peristiwa politik besar. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Kini media online yang masih cukup populer itu, tetap mendapat tempat di hati pembaca. Tentu saja, inovasi, politik keredaksionalan media yang dinamis membuatnya terus bertahan hingga kini. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Saya mengingat beberapa media online, yang bercita-cita jadi mega portal tapi tak mampu mengelola mimpi besarnya, Lippostar.com misalnya salah satu yang tumbang. Sisi biaya operasional yang tinggi, saya kira jadi beban untuk bertahan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Beberapa media lain, yang kini masih tetap ada, Astaga.com, Kapanlagi.com, atau situs layanan e-mail gratis, Plasa.com yang disediakan oleh perusahaan lokal juga bisa bertahan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Selebihnya, ya itu tadi, kisah jatuhnya media online gara-gara tak ada 'amunisi' berupa konten dan informasi terbaru, penting dan menarik untuk pembacanya. Di sisi lain, ada juga media online yang berasal dari komunitas, lalu membesar dan menjadi rujukan bagi banyak pihak. Pengelola membuka diri, dengan sistem voluntarisme atau suka rela tanpa kompensasi materi. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Media  seperti itu, berkembang dan mendapat kepercayaan karena isinya memang unik, spesifik dan selalu up date. Sebut saja beberapa media online di tingkat lokal, yang berisi informasi khusus seputar kota-kota tertentu di Indonesia. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Di Yogyakarta, ada Gudeg.Net yang jadi gerai untuk promo layanan web developer, terus berinovasi menghadirkan informasi yang dibutuhkan. Bahkan terakhir, dalam pengembangan bisnisnya, ada jogjastreamers.com yang mewadahi radio-radio lokal untuk live streaming. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Bagi saya, itulah contoh kecerdikan mengelola ide, gagasan, peluang dan mimpi sekaligus paduan ketrampilan dan kesungguhan dalam menjalankan program. Mereka, pengelolanya mengenal betul karakteristik media dan tahu bagaimana melayani.&lt;br&gt;&lt;br&gt; Atau kalau melirik ke pengelola situs luar, misal You Tube, Google, Yahoo!, jadi contoh bagi cerita sukses pelayanan juga bisnis media online.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Media besar, seperti Kompas.com, secara perlahan tapi pasti, kini juga mencitrakan diri sebagai situs online terpercaya, yang memenuhi prinsip konvergensi. Info tertulis, teks, video, suara dan on demand sesuai karakteristik kemampuan media online termanfaatkan dengan baik.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Apa sih, obrolan panjang lebar yang ingin saya catat, sekarang ini dengan berkembangnya pengetahuan media online, semua orang bisa mewujudkan mimpi, membuat mega portal. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Hanya saja, model latah, sekedar ikut-ikut, tentu saja nasibnya akan sama dengan media yang lebih dahulu hadir. Satu persatu bertumbangan, jadi hayo siapa lagi berani?&lt;!-- begin(Yahoo ad) --&gt;&lt;a href=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/118672/click/&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/118672/img/?url=http%3A%2F%2Fdokupath.blogdrive.com%2Farchive%2F123.html&amp;amp;pid=1846251505&quot; alt=&quot;Ads by Yahoo!&quot; border=&quot;0&quot;/&gt;&lt;/a&gt;&lt;!-- end(Yahoo ad) --&gt;</description>
      <comments>http://dokupath.blogdrive.com/comments?id=123</comments>
    </item>
    <item>
      <title>Diskusi Buku 'Calon Presiden'</title>
      <link>http://dokupath.blogdrive.com/archive/121.html</link>
      <pubDate>Sat, 02 Aug 2008 00:42:27 GMT</pubDate>
      <description>Menulis buku, tampaknya jadi trend bagi 'calon presiden' yang akan maju pada pemilihan umum tahun 2009 mendatang. Boleh jadi, kalaupun si penulis tak lolos dan mendapat suara pemilih, ia sudah melaksanakan tugas mulia. Memberikan bacaan dan tambahan gizi otak ke pembaca.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Tapi itu, sepertinya tak berlaku bagi Eko Prasetyo, pengarang buku, editor, pengusaha, aktifis yang getol dengan pemikiran sosialisnya. Ia menampik untuk membaca karya Dr Yuddi Chrisnandi, Beyond Parlemen ketika disodori untuk jadi pembahas. Enteng saja, di acak-acaknya forum diskusi buku calon presiden muda, dari partai Golkar yang duduk di kursi parlemen itu.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Sungguh mengasyikan, karena ide-ide besar yang disampaikan dalam buku tersebut langsung terpatahkan logikanya. Kritik terbesar adalah soal akar sejarah gerakan, penulis yang dipersoalkan. DPR, tempat dan asal Dr Yuddi, berisi politisi yang bukan saja haus kekuasaan, sekaligus rakus materi jadi sasaran tembak. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Pendek kata, dirinya sangsi atas kapasitas penulis, seberapa yakin calon muda yang maju itu mampu meraih hati pemilih. Banyak ketidakpuasan, keprihatinan dan hampir segala harapan yang di amanatkan kepada pemimpin yang lahir dari rahim demokrasi pemilihan langsung, dewasa ini jauh dari harapan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Eko lebih suka bicara, soal kepemimpinan Soekarno muda, yang sejak semester tiga sudah menulis buku dan menanam benih kemerdekaan di dalam dirinya. Orang muda yang tak sekedar resah, tapi melakukan pilihan-pilihan gerakan besar yang memandu rasa kebangsaan. Hatta, yang disebutnya punya prinsip besar dalam keinginan membawa bangsa ini menjadi negeri yang merdeka. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Selebihnya, pemimpin revolusioner dunia yang disebut layak diyakini memiliki semangat serta tindakan yang berani. Evo Morales, Hugo Chaves, dengan segala kebijakan berorientasi pada pemenuhan kebutuhan rakyatnya, tak gentar menghadapi nafsu materialisme.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Tentu saja, Eko Prasetyo dengan gaya khas-nya mengingatkan betapa sulit kondisi ekonomi dan sosial masyarakat Indonesia terkini. Mimik mukanya serius, tapi justru sering mengundang tawa  mahasiswa dan khalayak yang datang di ruang Auditorium BRI UGM. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Ia mengkritik tajam pola komite penyelamat harta kekayaan negara yang dideklarasikan tokoh-? Alasanya, apa iya masih punya harta negeri ini? Bukankah sudah habis digerogoti politisi DPR, di caplok asing, &lt;br&gt;&lt;br&gt;Baginya, cukup hal sederhana yang harus jadi pertimbangan siapapun yang maju nanti. Mampukah dirinya menawarkan aturan batas kepemilikan dengan tegas? Ada orang kaya luar biasa di negeri ini, sekaligus kemiskinan yang nyata jadi wajah keseharian jumlahnya lebih banyak.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&quot;Pemimpin itu harus jelas akar gerakan dan keberpihakan kepada rakyat, dari mana dia berasal dan apa yang diperjuangkan,&quot; kata Eko.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Soal pemimpin muda, tak jelas ia menunjuk siapapun. &lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;!-- begin(Yahoo ad) --&gt;&lt;a href=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/118672/click/&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/118672/img/?url=http%3A%2F%2Fdokupath.blogdrive.com%2Farchive%2F121.html&amp;amp;pid=1846251505&quot; alt=&quot;Ads by Yahoo!&quot; border=&quot;0&quot;/&gt;&lt;/a&gt;&lt;!-- end(Yahoo ad) --&gt;</description>
      <comments>http://dokupath.blogdrive.com/comments?id=121</comments>
    </item>
    <item>
      <title>12 Tahun Lalu, di Jalan Diponegoro</title>
      <link>http://dokupath.blogdrive.com/archive/120.html</link>
      <pubDate>Sun, 27 Jul 2008 08:29:08 GMT</pubDate>
      <description>Membaca berita di media hari ini, langsung mengingatkan peristiwa 12 tahun lalu di Jl Diponegoro. Wajah kekerasan dari orang-orang bersenjata, masih saja terekam kuat. Saya, setelah 12 tahun berlalu belum bisa memahami cara-cara penyelesaian 'politik' dengan alasan kekerasan semacam itu. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Suara-suara korban semakin lirih terekam di media. Pun, seorang tokoh muda partai PDI Perjuangan yang dulu ikut bersemangat menyampaikan orasi di Jl Diponegoro, tak bicara lagi soal kekerasan yang menimpa korban 27 Juli 1996.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Saya, bagian dari orang yang awam dari elit kekuasaan yang bertarung dalam perebutan 'citra politik' partai. Saya dan ribuan orang yang harus berlari-lari akibat kerusuhan di kantor Partai Demokrasi Indonesia, pimpinan Megawati itu bisa jadi hanya mengenang dalam lubuk hati, sekaligus mencatat, siapa yang berbuat kekerasan menanam monumen abadi kesalahan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Kini, 12 tahun berlalu, pejabat keamanan yang memilih membubarkan massa, berkoar-koar menjadi figur yang layak memimpin negeri. Menggunakan isu yang hampir sama setiap masa, memperhatikan kehidupan masyarakat miskin, mengangkat pendidikan bagi semua anak negeri, membuat kebijakan yang menjadikan rakyat sejahtera, dengan kepemimpinan yang adil, dan lain sebagainya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Saya kok belum pernah mendengar, ungkapan tulus, pernyataan lebih manusiawi yang dengan jelas menggelorakan, dihentikannya aksi-aksi kekerasan untuk penyelesaian masalah-masalah politis. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Atau, itu igauan saya saja, yang hampir-hampir tak sempat terlintas di benak (calon) penguasa.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Hmmm, atau bisa jadi budaya (sebagian anak) bangsa yang ternyata lebih suka kekerasan sebagai tontonan wisata, hiburan di layar teve, menyaksikan kematian orang lain, sambil menikmati makanan ringan di ruang keluarga?&lt;br&gt;&lt;br&gt;Jangan-jangan, banyak yang terpukau oleh polesan, promosi, pemberitaan. Mengidolakan seorang tokoh, yang sekaligus bak jagal manusia di balik kecerdasan otak?&lt;br&gt;&lt;br&gt;Duh, kalau sudah begini, kisah 12 tahun jadi abadi. Semua bisa jadi jamaah orang-orang  bodoh yang mengandalkan otak tumpul! Memilih diam atas segala kekerasan, bahkan menutupinya demi popularitas dan citra diri&lt;br&gt;&lt;br&gt;Semoga saja tidak!!!!.&lt;br&gt;&lt;br&gt;&lt;!-- begin(Yahoo ad) --&gt;&lt;a href=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/118672/click/&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/118672/img/?url=http%3A%2F%2Fdokupath.blogdrive.com%2Farchive%2F120.html&amp;amp;pid=1846251505&quot; alt=&quot;Ads by Yahoo!&quot; border=&quot;0&quot;/&gt;&lt;/a&gt;&lt;!-- end(Yahoo ad) --&gt;</description>
      <comments>http://dokupath.blogdrive.com/comments?id=120</comments>
    </item>
    <item>
      <title>Soal Hukuman Mati</title>
      <link>http://dokupath.blogdrive.com/archive/119.html</link>
      <pubDate>Thu, 17 Jul 2008 00:46:46 GMT</pubDate>
      <description>Eksekusi hukuman mati di tahun 2008, lebih marak dilakukan pemerintah. Sekaligus membuka lagi debat soal keadilan dalam pilihan hukuman yang dijatuhkan. Di Sumatra, dukun AS telah di eksekusi lalu dua warga asing terpidana narkoba di eksekusi mati di Nusakambangan. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Hari-hari terakhir dua terpidana mati Sumiarsih dan Sugeng juga menghadapi hukuman mati. Info yang beredar, mereka akan di eksekusi hari Jumat (18/7). &lt;br&gt;&lt;br&gt;Menyertai proses hukuman mati, liputan media juga gencar memberikan laporan. Biasanya, merekam keinginan terakhir dari terpidana dan sisi kemanusiaan yang tampil. Tentu saja, ada laporan soal debat hukuman mati tersebut. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Media juga memberikan info sejarah hukuman mati serta sebab majelis hakim memberikan vonis mati bagi seseorang.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Cukup banyak alasan penolakan hukuman mati diberlakukan dalam sistem hukum sebuah negara. Sisi keadilan dan alasan kemanusiaan dipertanyakan oleh kelompok yang menentang. Banyak alasan dikemukakan, misalnya pelaku yang dihukum mati sebenarnya telah menjalani dua hukuman. Itu jelas melanggar asas keadilan hukum.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Proses pemenjaraan yang dijalani lalu problem psikologis menghadapi hukuman mati. Atas alasan hak-hak asasi manusia, beberapa negara juga mulai meninggalkan pilihan hukuman mati karena bertentangan dengan hak hidup manusia. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Soal asas keadilan dalam hukum memang jadi bahan pertanyaan. Jika dirunut untuk kasus terpidana mati yang di eksekusi tahun 2008, pelaku juga jelas terbukti bersalah di persidangan. Bahkan tindakan yang dilakukan yaitu menghilangkan nyawa, kasus narkoba adalah bentuk kejahatan dan pelanggaran hukum berat.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Bagi negara hukum seperti Indonesia, alasan asas kepastian hukum jadi landasan memberlakukan hukuman mati. Vonis atas tindak pidana yang dilakukan telah memberikan kesempatan bagi terpidana untuk mengajukan banding juga grasi kepada Presiden. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Berkait hukuman mati ini, debat publik masih akan terus berjalan. Bagi negeri Indonesia, dengan track record di dunia peradilan yang masih berlumpur praktek kotor mafia peradilan tentu menghadirkan pertanyaan soal legitimasi peradilan untuk membuat putusan hakim yang adil atas sebuah kasus hukum.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Peradilan bersih memiliki legitimasi kuat, yang membuat kepercayaan masyarakat atas sistem hukum yang diterapkan. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Masalah setuju atau tidak hukuman mati, itu masuk politik hukum. Hanya saja, jika negara seperti Indonesia memang memilih hukuman mati untuk pelaku kejahatan besar, mungkin sudah waktunya juga untuk menambahkan pilihan hukuman mati bagi pelaku korupsi. &lt;!-- begin(Yahoo ad) --&gt;&lt;a href=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/118672/click/&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/118672/img/?url=http%3A%2F%2Fdokupath.blogdrive.com%2Farchive%2F119.html&amp;amp;pid=1846251505&quot; alt=&quot;Ads by Yahoo!&quot; border=&quot;0&quot;/&gt;&lt;/a&gt;&lt;!-- end(Yahoo ad) --&gt;</description>
      <comments>http://dokupath.blogdrive.com/comments?id=119</comments>
    </item>
    <item>
      <title>Sembilan Bulan Masa Kampanye</title>
      <link>http://dokupath.blogdrive.com/archive/118.html</link>
      <pubDate>Sun, 13 Jul 2008 14:59:16 GMT</pubDate>
      <description>Sebelum menulis artikel ini, ingatan langsung tertuju pada suasana 'eforia' tahun 1999 saat aktifitas partai politik di Komisi Pemilihan Umum yang ada di Jalan Diponegoro Jakarta. Saya mencatat, perjalanan partai yang tumbuh dan lahir dari buah reformasi tak banyak yang berumur panjang. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Bahkan partai yang memperoleh nomor urut satu, harus puas hanya jadi peserta pemilu. Selebihnya tak mendapatkan kursi di parlemen dan yang menjadi aktifisnya entah ke mana saja sekarang. Ada yang serius mendalami ilmu politik di luar negeri, tetap menjadi aktifis partai dan percaya panggilan politik terjun di partai jadi alat perjuangan mengabdikan diri mewujudkan cita-cita idealis.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Saya juga menemukan mereka yang berjaya waktu itu, jadi sorotan media. Menghias halaman koran dan majalah juga sorotan televisi. Hanya saja, aktifitasnya seumur jagung. Beberapa orang pemimpin partai yang lain, memang lolos mendapat suara dan menjadi anggota DPR di Senayan. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Memasuki 10 tahun perjalanan partai politik, rasanya bahan 'jualan' platform kok rasanya hambar hingga sekarang. Masalah-masalah mendasar yang membelenggu negeri juga belum terselesaikan. Sebut saja, beberapa kata dasar berikut, miskin, sehat, korupsi.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Sabtu akhir pekan lalu, 11 Juli di KPU Yogyakarta Timoho, saya hadir dalam deklarasi damai partai politik. Mereka berikrar menjalankan kampanye menuju pemilihan umum dengan nir kekerasan. &lt;br&gt;&lt;br&gt;OK, niat baik dari penyelenggaraan pemilu 2009 yang menyedot dana besar. &lt;br&gt;Sekaligus saya harus menuliskan, tak ada kemeriahan dan rasa percaya diri yang saya temui. Pemimpin partai yang hadir, tak banyak yang mengumbar senyuman. Hanya satu dua, itupun saya sangat paham mereka pernah mengintimadasi orang yang berbeda paham dengan ancaman golok.  &lt;br&gt;&lt;br&gt;Selebihnya, mereka yang punya dana tampil dengan atribut baju kebesaran partai. Lucunya, saya kok lebih melihat model pakaian yang dikenakan tak ubahnya karyawan perusahaan. &lt;br&gt;Hmmmm, musim kampanye sembilan bulan sudah dibuka. Ada 34 partai yang mengikuti pemilu 2009. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Sedikit memprotes kepada anggota KPU soal waktu yang panjang dan jumlah partai yang banyak, mendapat jawaban singkat, &quot;Dulu kita diprotes masa kampanye pendek, sekarang kita beri waktu mencukupi. Kalau mau berkampanye, silakan. Partai baru butuh dikenal masyarakat,&quot; jelasnya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Ooo....begitu ya! Tapi jujur saja, saya malas menghapal satu persatu nama partai. Apa banyak dari warga negeri ini yang berpikiran  sama? &lt;br&gt;&lt;br&gt;Tunggu sembilan bulan lagi, hasilnya! &lt;br&gt;&lt;!-- begin(Yahoo ad) --&gt;&lt;a href=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/118672/click/&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/118672/img/?url=http%3A%2F%2Fdokupath.blogdrive.com%2Farchive%2F118.html&amp;amp;pid=1846251505&quot; alt=&quot;Ads by Yahoo!&quot; border=&quot;0&quot;/&gt;&lt;/a&gt;&lt;!-- end(Yahoo ad) --&gt;</description>
      <comments>http://dokupath.blogdrive.com/comments?id=118</comments>
    </item>
    <item>
      <title>Bencana Alam (Lagi)</title>
      <link>http://dokupath.blogdrive.com/archive/117.html</link>
      <pubDate>Thu, 15 May 2008 00:17:53 GMT</pubDate>
      <description>Kabar duka kembali terekam dalam media massa. Kali ini bukan dari dalam negeri ,tapi dari dua negara yang cukup dekat dengan masyarakat. Angin topan yang melanda Myanmar dan negeri China dengan gempa bumi hebat yang menewaskan ribuan orang.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Ada kisah kelam dari dua wilayah itu. Pemerintah junta militer Myanmar mengatakan bantuan asing tak seenaknya masuk. Mereka bisa mengatasi kondisi meski dengan kecepatan pemulihan yang lambat. Tentu saja itu menyulitkan mengalirnya bantuan kemanusiaan menuju daerah bencana. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Di China, obor olimpiade akhirnya tak melewati seluruh kota sesuai rencana mengingat kondisi bencana alam yang baru saja terjadi. Mereka mengganti agenda kegiatan dengan membuka kotak sumbangan di setiap perjalanan obor menuju penyelenggaraan olimpiade.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Ternyata rasa solidaritas yang tercipta belum mampu meruntuhkan nurani penguasa di Myanmar. Saya kira ada kepentingan politis saat menolak hadirnya bantuan, karena begitu pintu kedaulatan negara dibuka untuk masuknya bantuan asing, jelas banyak agenda lain yang dikhawatirkan hadir.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Aduh, inilah politik bencana yang sangat bertolak belakang dengan kepentingan kemanusiaan. Logika menolong yang dibangun langsung hilang saat berbenturan kepentingan politik. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Tapi itulah faktanya, dua kondisi bencana terbaru yang menghadirkan pengetahuan dan respon bencana yang berbeda.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Bagaimana dengan Indonesia? Saya sedang khawatir, ancaman krisis 10 tahun yang berlalu menghadirkan bencana (lagi). Bukan karena menolak bantuan, tapi akibat tindakan bodoh kolektif yang dilakukan. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Apa saja itu ? Tentu saja, menggunakan kekuasaan dengan cara yang salah.  &lt;!-- begin(Yahoo ad) --&gt;&lt;a href=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/118672/click/&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/118672/img/?url=http%3A%2F%2Fdokupath.blogdrive.com%2Farchive%2F117.html&amp;amp;pid=1846251505&quot; alt=&quot;Ads by Yahoo!&quot; border=&quot;0&quot;/&gt;&lt;/a&gt;&lt;!-- end(Yahoo ad) --&gt;</description>
      <comments>http://dokupath.blogdrive.com/comments?id=117</comments>
    </item>
    <item>
      <title>Akhir Pekan</title>
      <link>http://dokupath.blogdrive.com/archive/116.html</link>
      <pubDate>Sun, 24 Feb 2008 23:39:28 GMT</pubDate>
      <description>Bagi sebagian masyarakat, akhir pekan jadi kata ampuh untuk deklarasikan diri sebagai saat yang santai. Tak semua orang memang menikmati kondisi itu. Hanya beberapa saja, sesuai kesibukan yang dijalani.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Nah, dunia modern pun mengenalkan waktu luang di akhir pekan dengan tak bekerja, alias libur panjang. Konsep ini, diyakini akan memberikan peluang bagi pekerja untuk optimal dalam menjalankan aktifitas pekerjaan yang dilakoni di minggu berikutnya.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Memberi makna berlibur memang tak harus mengeluarkan duit. Aktifitas ringan di rumah dengan berkumpul bersama keluarga, tentu jadi pilihan bagi mereka yang tiap hari mendapat tekanan kerja. Makan bersama, bermain bersama, atau sekedar santai tanpa aktifitas fisik juga bisa dipilih untuk mengisi akhir pekan.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Namun bagi sebagian keluarga yang lain, aktifitas semacam itu masih belum cukup, harus keluar rumah. Nah, inilah waktu bagi pariwisata bekerja. Menarik lebih banyak orang untuk mau keluar rumah, memilih lokasi wisata yang disenangi dan membelanjakan uang.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Apa pilihannya, mall di perkotaan atau pelosok desa, pantai, gunung dan ruang rekreasi lain yang menarik untuk dikunjungi.&lt;br&gt;&lt;br&gt;Alih-alih berwisata, di Indonesia beberapa tahun terakhir, menyediakan hari libur yang cukup panjang bagi warganya. Hari raya keagamaan yang dekat oleh pemerintah diberi tanggal merah, yang maknanya hari libur. Konsepnya sederhana, membuat warga-nya untuk memiliki waktu luang, leissure time. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Masalahnya, seringkali banyak warga yang tak mampu menikmati, kok waktu luang, tiap hari sudah tersedia. Kelompok macam ini, adalah wong cilik yang harus selalu mengais rezeki, tak hanya di akhir pekan, tapi di setiap detik dari kehidupan. &lt;br&gt;&lt;br&gt;Ah rumit juga, akhirnya menulis akhir pekan, ya !&lt;!-- begin(Yahoo ad) --&gt;&lt;a href=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/118672/click/&quot;&gt;&lt;img src=&quot;http://ypn-rss.overture.com/rss/35557/118672/img/?url=http%3A%2F%2Fdokupath.blogdrive.com%2Farchive%2F116.html&amp;amp;pid=1846251505&quot; alt=&quot;Ads by Yahoo!&quot; border=&quot;0&quot;/&gt;&lt;/a&gt;&lt;!-- end(Yahoo ad) --&gt;</description>
      <comments>http://dokupath.blogdrive.com/comments?id=116</comments>
    </item>
  </channel>
</rss>
